Pages

Senin, 11 Oktober 2010

Perkembangan Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia

Teori Masuknya Hindu-Buddha di Indonesia
Adanya hubungan dagang antara Indonesia dengan India berpengaruh besar terhadap masuknya budaya Hindu-Buddha ke Indonesia. Agama Buddha disebarluaskan ke Indonesia oleh para biksu, sedangkan mengenai pembawa agam Hindu ke Indonesia sejarawan mengemukakan lima teori berikut.

-Teori Brahmana, dengan melihat unsur-unsur budaya India yang berpengaruh ke Indonesia, J.C. Van Leur mengutarakan bahwa kaum brahmana sangat berperan dalam pentebaran agama dan kebudayaan Hindu ke Indonesia. Mereka datang atas undangan para penguasa Indonesia. Kaum brahmana diundang ke Indonesia untuk melakukan upacara khusus menjadikan seseorang menjadi pemeluk Hindu yang disebut vratyastoma.

-Teori Ksatria, teori ini dikemukakan oleh F.D.K. Bosch. Ia menyatakan bahwa adanya raja-raja dari India yang datang menaklukkan daerah-daerah tertentu di Indonesia telah mengakibatkan penghinduan penduduk setempat. Terhadap teori ksatria, van Leur mengajukan keberatan. Menurutnya, jika memang raja-raja India pernah menaklukkan daerah di Indonesia, maka hal itu akan dicatat dalam sumber-sumber sejarah baik di India maupun Indonesia. Raja-raja India biasanya membangun sebuah tugu kemenangan yang disebut jayastamba.

-Teori Waisya, menurut N.J.Krom, golongan pedagang dari kasta waisya merupakan golongan terbesar yang datang ke Indonesia. mereka menetap di Indonesia dan kemudian memegang peran penting dalam proses penyebaran kebudayaan India.

-Teori Sudra, teori ini menyatakan bahwa agama Hindu masuk ke Indonesia dibawa oleh kasta sudra. Mereka datang ke Indonesia dengan tujuanmengubah kehidupan karena di India mereka hanya hidup sebagai pekerja kasar dan budak.

-Teori Campuran. teori ini beranggapan bahwa baik kaum brahmana, ksatria, para pedagang, maupun golongan sudra bersama-sama menyebarkan agama Hindu ke Indonesia sesuai dengan peran masing-masing.


Perkembangan Kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia
Bukti tertua adanya pengaruh India di Indonesia adalah ditemukannya arca Buddha dari perunggu di Sempaga, Sulawesi Selatan. Arca ini berlanggam seni arca Ammarawati, India selatan. Arca sejenis juga ditemukan di Jember, Jawa Timur, dan di daerah Bukit Siguntang, Sumatera Selatan. Perkembangan kebudayaan India di Indonesia ditunjukkan pula oleh adanya kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha.

1. Kerajaan Kutai
Kerajaan Kutai atau Kerajaan Kutai Martadipura (Martapura) merupakan kerajaan Hindu yang berdiri sekitar abad ke-4 Masehi di Muara Kaman, Kalimantan Timur. Kerajaan ini dibangun oleh Kundunga. Diduga ia belum menganut agama Hindu.
Peninggalan terpenting adalah ditemukannya 7 prasasti Yupa, dengan  huruf pallawa dan bahasa Sanskerta. Prasasti yupa berupa tiang-tiang batu untuk mengikat hewan kurban. Salah satu yupa menyatakan bahwa "Maharaja Kundunga mempunyai seorang putra bernama Aswawarman yang disamakan dengan Ansuman (Dewa Matahari). Aswawarman mempunyai 3 orang putra, yang paling terkemuka adalah Mulawarman".
Mulawarman merupakan raja termasyur Kutai. Ia pernah menyedekahkan 20.000 ekor lembu kepada para brahmana. Untuk memperingatinya, para brahmana mencatatnya dalam prasasti yupa. Salah satu prasasti juga menyebut kata Waprakeswara tempat pemujaan terhadap Dewa Syiwa.

2. Kerajaan Tarumanegara
Berdirinya kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat hampir bersamaan waktunya dengan Kerajaan Kutai. Tarumanegara didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358, yang kemudian digantikan oleh putranya, Dharmayawarman (382-395).
Kata taruma berhubungan dengan kata tarum yang berarti nila atau biru. Sampai sekarang nama taruma masih digunakan sebagai nama sungai, yaitu Citarum (ci=sungai).
Maharaja Purnawarman adalah Raja Tarumanegara yang ketiga (395-434 M). Ia membangun ibu kota kerajaan baru pada tahun 397 yang terletak lebih dekat ke pantai. Ibukota baru itu bernama Sundapura. Menurut prasasti tugu pada tahun 417 Purnawarman memerintahkan penggailan sungai Gomati dan Candrabaga sepanjang 6112 tombak (sekitar 11 km). Ia berhasil membawa Tarumanegara menjadi kerajaan besar. Kekuasaannya membentangi dari daerah Bekasi di timur sampai ke Banten Selatan di barat.
Prasasti lain yaitu, Prasasti Ciaruteun, Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Jambu (Pasir Koleangkak), Prasasti Cidanghiang(Munjul), dan Prasasti Pasir Awi(Muara Cianten).
Dari isi beberapa prasasti tersebut disimpulkan bahwa Purnawarman menganut agama Hindu Waisnawa(Aliran pemuja Dewa Wisnu). Adapun menurut Fa-Hien yang tiba di To-lo-mo pada abad ke-7 M diterangkan bahwa agama yang dianut masyarakat Tarumanegara adalah Hindu-Buddha, dan Animisme-Dinamisme.

3. Kerajaan Sriwijaya
Berdasarkan berita-berita Cina dapat diketahui bahwa di Sumatera pada abad ke-7 sudah terdapat beberapa kerajaan, seperti kerajaan To-lang-p'o-hwang(Tulangbawang di Sumatera Selatan), Molo-yeu(Melayu di Jambi), dan Shih-li-fo-shih atau Sriwijaya. Dalam sejarah Indonesia klasik, Kerajaan Sriwijaya selalu disebut-sebut sebagai kerajaan yang megah dan jaya yang melambangkan kejayaan bangsa Indonesia di masa lalu.

a. Faktor-faktor pendorong perkembangan kerajaan Sriwijaya
-Letaknya yang strategis di Selat Malaka yang merupakan jalur pelayaran dan perdagangan Internasional.
-Kemajuan kegiatan perdagangan antara India dan Cina yang melintasi selat Malaka sehingga membawa keuntungan besar bagi Sriwijaya.
-Keruntuhan kerajaan Funan di Vietnam Selatan akibat serangan kerajaan Kamboja yang memberikan kesempatan bagi perkembangan Sriwijaya sebagai negara maritim(sarwajala), yang selama abad ke-6 dipegang oleh Kerajaan Funan.

b. Prasasti-prasasti kerajaan Sriwijaya
-Prasasti Kedukan Bukit, Prasasti ini ditemukan di Kedukan Bukit, dekat Palembang, berangka tahun 605 Saka(+683 M) menceritakan perjalanan suci yang dilakukan oleh Dapunta Hyang dengan perahu. Ia berhasil menaklukkan beberapa daerah sehingga Sriwijaya menjadi makmur.
-Prasasti Talang Tuo, Prasasti Talang Tuo (dekat Palembang) yang berangka tahun 684 M berisi berita tentang pembuatan taman riksetra atas perintah Dapunta Hyang ri Jayanaga untuk kemakmuran semua makhluk.
-Prasasti Kota Kapur, Prasasti yang berangka tahun 686 M ini ditemukan di Kota Kapur, Pulau bangka. Prasasti ini menyebutkan adanya ekspedisi Sriwijaya ke daerah seberang lautan (Pulau Jawa) untuk memperluas kekuasaannya dengan menundukkan  kerajaan-kerajaan di sekitarnya.
-Prasasti Telaga Batu, Prasasti ini tidak berangka tahun. Isinya mengenai kutukan-kutukan yang seram terhadap siapa saja yang melakukan kejahatan dan tidak taat kepada raja.
-Prasasti Karang Berahi, Prasasti ini ditemukan di daerah Karang Berawi, Jambi Hulu. Berangka tahun 686 M dengan isi permintaan kepada dewa yang menjaga Sriwijaya dan untuk menghukum setiap orang yang bermaksud jahat terhadap Sriwijaya.
-Prasasti Ligor, Prasasti berangka tahun 775 M ditemukan di Tanah Genting Kra, Ligor.

Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Balaputradewa. Ia mengadakan hubungan dengan Raja Dewapaladewa dari India. dalam prasasti Nalanda yang berasal dari sekitar tahun 860 M disebutkan bahwa Balaputradewa mengajukan permintaan kepada Raja Dewapaladewa dari benggala untuk mendirikan biara bagi para mahasiswa dan pendeta Sriwijaya yang belajar di Nalanda. Balaputradewa adalah putra Samaratungga dari Dinasti Syailendra yang memerintah di Jawa Tengah tahun 812-824 M.
Sriwijaya pernah pula menjadi pusat pendidikan dan pengembangan agama Buddha. Seorang biksu Buddha dari Cina bernama I-tsing pada tahun 671 berangkat dari Kanton ke India untuk belajar agama Buddha. Ia singgah di Sriwijaya selama 6 bulan untuk belajar bahasa Sanskerta. Di Sriwijaya mengajar seorang guru agama Buddha yang terkenal bernama Sakyakirti yang menulis buku berjudul Hastadandasastra. Para biksu Cina yang hendak belajar agama Buddha ke India dianjurkan untuk belajar di Sriwijaya selama 1 atau 2 tahun. Pada masa berikutnya yaitu pada tahun 717 dua pendeta Tantris bernama Wajrabodhi dan Amoghawajra datang ke Sriwijaya. Kemudian, antara tahun 1011-1023 M datang pula pendeta dari Tibet bernama Attisa untuk belajar agama Buddha kepada Mahaguru di Sriwijaya bernama Dharmakirti.

c. Sebab-sebab kemunduran Kerajaan Sriwijaya
-Serangan Raja Dharmawangsa pada tahun 990 M. Ketika itu yang berkuasa di Sriwijaya adalah Sri Sudamani Warmadewa. Walaupun serangan ini tidak berhasil tetapi tela melemahkan Sriwijaya.
-Serangan dari Kerajaan Colamandala yang diperintah oleh Raja Rajendracoladewa pada tahun 1023 dan 1030. Serangan ini berhasil menawan raja Sriwijaya.
-Pengiriman ekspedisi Pamalayu atas perintah raja Kertanegara, 1275-1292, yang diterima dengan baik oleh raja Melayu(jambi), Mauliwarmadewa, semakin melemahkan kedudukan Sriwijaya.
-Muncul dan berkembangnya kerajaan Islam Samudra Pasai yang mengambil alih posisi Sriwijaya.
-Serangan Kerajaan majapahit dipimpin Adityawarman atas perintah Mahapatih Gajah Mada pada tahun 1477 yang mengakibatkan Sriwijaya menjadi Taklukan Majapahit.

4. Kerajaan Mataram
Berita mengenai Kerajaan mataram diketahui dari Prasasti Canggal yang berangka tahun 732 M, ditulis dalam huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Prasasti ini ditemukan di lereng Gunung Wukir dekat Muntilan. Dalam prasasti itu disebutkan bahwa pada mulanya Jawa (Yawadwipa) diperintah oleh Raja Sanna yang memerintah dengan bijaksana. Setelah ia wafat, negaranyamenjadi pecah dan kebingungan. Kemudian Sanjaya naik tahta sebagai pengganti. Sanjaya adalah putra Sannaha(saudara perempuan Sanna) yang sangat ahli dalam peperangan.
Sanna dan Sanjaya disebutkan juga dalam Carita Parahyangan, sebuah kitab yang mengisahkan tentang Kerajaan Sunda. Dalam kitab tersebut dikisahkan bahwa Sunna dikalahkan oleh Purbasora dari Galuh dan menyingkir ke Merapi. Namun penggantinya, Sanjaya dapat menaklukkan Jawa Barat, Jawa Timur, dan Bali. Prasasti Mantyasih(kedu) yang dikeluarkan oleh Raja Balitung pada tahun 907 memuat daftar raja-raja Mataram, yaitu sebagai berikut.
-Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya
-Sri Maharaja Rakai Panangkaran
-Sri Maharaja Rakai Panunggalan
-Sri Maharaja Rakai Warak
-Sri Maharaja Rakai Garung
-Sri Maharaja Rakai Pikatan
-Sri Maharaja Rakai Kayuwangi
-Sri Maharaja Rakai Watuhumalang
-Sri Maharaja Watukura Dyah Balitung

Pengganti Sanjaya terdapat dalam Prasasti Kalasan yang ditulis dengan huruf pra-Nagari dalam bahasa Sanskerta dan berangka tahun 778 M. Prasasti ini menyatakan bahwa para guru telah berhasil membujuk Tejahpurana Panangkarana untuk mendirikan bangunan suci untuk dewi Tara dan sebuah biara untuk pendeta. Bangunan yang didirikan itu adalah Candi Kalasan di sebelah timur Yogyakarta. Adapun nama Tejahpurana Panagkarana adalah nama Rakai Panangkaran, pengganti Sanjaya seperti disebutkan dalam prasasti Mantyasih. Berdasarkan prasasti ini dapat diketahui bahwa Rakai Panangkaran tidak beragama Hindu seperti halnya Sanjaya, namun beragama Buddha Mahayana.
Perpindahan agama itu dijelaskan dalam prasasti Sojomerto yang berbahasa Melayu Kuno dan Prasasti Sankhara yang berbahasa Sanskerta. Prasasti Sojomerto menyebutkan nama leluhur raja-raja Mataram bernama Dapunta Syailendra, sedangkan Prasasti Sankhara menerangkan bahwa ayah Raja Sankhara jatuh sakit panas selama delapan hari dan akhirnya meninggal dunia. Oleh sebab itu, ia merasa takut kepada sang guru yang dianggap tidak benar. Ia lalu meninggalkan agama Siwa dan kemudian menjadi penganut agama Buddha. Hal sama juga disebutkan dalam kitab Carita Parahyangan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa di dalam Kerajaan Mataram, walaupun raja-rajanya menganut agama yang berbeda tetapi mereka berasal dari satu keturunan(dinasti).
Prasasti Kelurak (782 M) di desa kelurak, dekat Prambanan, dengan tulisan pra-Nagari dan bahasa Sanskerta menyebutkan bahwa Raja Dharanindra membangun arca Majusri(Candi Sewu). Candi Sewu adalah candi Buddha. Pengganti raja Dharanindra ialah Samarathungga. Menurut Prasasti Karang Tengah, Samaratungga dan putrinya Pramodhawardhani, mendirikan bangunan suci Wenumena(Candi Ngawen) di sebelah barat Muntilan.
Pramodhawardhani kemudian menjadi pengganti Samaratungga. Dalam Prasasti Sri Kahulunan, berangka tahun 842 M di daerah Kedu, diberitakan bahwa Sri Kahulunan (Pramodhawardhani) meresmikan pemberian tanah untuk pemeliharaan Candi Borobudur(kamulan i bhummi sambara bhudara) yang sudah dibangun sejak masa pemerintahan Samaratungga.
Pramodhawardhani menikah dengan Rakai Pikatan yang beragama Hindu. Adik Pramowardhani, Balaputradewa, menentang pernikahan itu. Pada tahun 856, Balaputradewa berusaha merebut kekuasaan dari Rakai Pikatan, tetapi gagal. balaputradewa kemudian melarikan diri ke Sriwijaya dan berhasil naik tahta sebagai raja Sriwijaya. Menurut Prasasti Pikatan (856 M) disebutkan bahwa Rakai Pikatan memerintahkan pembangunan Candi Prambanan.
Setelah pemerintahan Rakai Pikatan, Mataram mengalami kemunduran. Penggantinya Rakai Kayuwangi (856-886)berhasil mengatasi pemberontakan Rakai Walaing Empu Kumbayoni. Pengganti Rakai ialah Rakai Watuhumalang yang memerintah antara tahun 886-898 M. Kemudian menyusul pemerintahan Raja Balitung (898-910). Pada masa pemerintahannya ia mengeluarkan prasasti Mantyasih.
Raja Balitung banyak mengalihkan perhatian ke wilayah Jawa Timur. Prasasti-prasasti Raja Balitung dari tahun 898 sampai 907 M banyak ditemukan di Jawa Timur. Bahkan salah satunya menyebutkan tentang penyerangan ke Bantan(Bali). Raja-raja setelah Balitung ialah Daksa (910-919), Rakai Layang Tulodong (919-924), dan Wawa yang bergelar Sri Wijayalokanamottungga (924-929). Wawa merupakan raja terakhir Kerajaan Mataram di Jawa tengah. Pusat kerajaan kemudian dipindahkan oleh seorang mahapatihnya (Mahamantri I hino) bernama Empu Sindok ke Jawa Timur. Perpindahan pusat Kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur diperkirakan oleh hal berikut.
-Menghindari serangan Kerajaan Sriwijaya.
-Rakyatnya banyak yang pindah ke Jawa Timur untuk menghindari kerja paksa karena banyak pembangunan candi.
-Bencana alam meletusnya Gunung Merapi.

Pada tahun 929 M, Empu Sindok naik tahta dengan gelar Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isana Wikramadharmattunggadewa.Ia mendirikan dinasti baru, yaitu Dinasti Isana. Empu Sindok memerintah dengan permaisurinya bernama Rakryan Sri Parameswari Sri Wardhani Empu Kbi. Empu Sindok meninggalkan banyak prasasti tidak banyak informasi peristiwa-peristiwa sejarah yang diperoleh darinya. Ada pula kitab agama Buddha yang dihimpun selama Empu Sindok berkuasa, yaitu Sang Hyang Kamahanikan yang berisi ajaran dan ibadah agama Buddha Tantrayana.
Empu Sindok memerintah hingga tahun 947. Pengganti-penggantinya dapat diketahui dari prasasti yang dikeluarkan oleh Airlangga, yaitu Prasasti Calcuta. Prasasti tersebut kini tersimpan di Indian Museum di Calcuta, india. Dalam prasasti itu dikemukakan silsilah keturunan Raja Empu Sindok sebagai berikut.
Empu Sindok digantikan oleh putrinya bernama Sri Isanatunggawijaya, yang bersuamikan Lokapala. Dari perkawinan itu lahirlah seorang putra bernama Makutawangsawardhana, yang kemudian menggantikan ibunya sebagai raja. Pengganti Makutawangsawardhana ialah Dharmawangsa Teguh Ananta Wikramatunggadewa. Ia diperkirakan putra dari Makutawangsawardhana,  dari selir.
Berdasarkan berita Cina diperoleh keterangan bahwa Raja Dharmawangsa pada tahun990-992 M menyerang Kerajaan Sriwijaya. Pada tahun 1016, Airlangga datang ke pulau Jawa untuk meminang putri Dharmawangsa. Namun pada saat upacara pernikahan berlangsung, kerajaan mendapat serangan dari Raja Wurawari yang bekerja sama dengan Sriwijaya. Peristiwa ini disebut pralaya atau kehancuran.
Airlangga dapat melarikan diri dan  bersembunyi di Wanagiri bersama para resi dan petapa dengan didampingi sahabatnya yang bernama Narotama. Selama dalam pengasingan, ia menyusun kekuatan. Pada tahun 1019, Airlangga dinobatkan menjadi raja pengganti Dharmawangsa oleh para pendeta Buddha, Siwa, dan Brahmana. Langkah pertama Airlangga adalah menyatukan kembali wilayah kerajaan yang pernah menjadi kekuasaan Dharmawangsa. Setelah berhasil menaklukkan Wurawari pada tahun 1032 dan mengalahkan Raja Wijaya dari Wengker, pada tahun 1035 ia berhasil mengembalikan kekuasaan warisan Dharmawangsa. Wilayahnya meliputi daerah Surabaya, Malang, Kediri, dan madiun.
Airlangga juga berupaya memberikan kemakmuran bagi rakyatnya. Prasasti Kelagen (1037 M) menyebutkan bahwa Airlangga memerintahkan pembangunan sebuah waduk Hujung Galuh di Waringain Sapta (Waringin Pitu) guna mengatur aliran Sungai Brantas. Sehingga banyak kapal dagang dari Benggala, Sri Lanka, Chola, Champa, Burma, dan lain-lain datang ke pelabuhan itu. Kemakmuran dan ketentraman pada masa pemerintahan Airlangga diceritakan pula dalam kitab Arjunawiwaha yang dikarang oleh Empu Kanwa pada tahun 1030.
Pada masa pemerintahan Airlangga banyak dibangun bangunan suci dan asrama untuk pendeta dan petapa. Airlangga menganut agama Hindu aliran Waisnawa(pemuja dewa Wisnu). Setelah mengundurkan diri sebagai raja/ ia menjadi petapa dengan nama Resi Gentayu. Airlangga wafat pada tahun 1049 dan disemayamkan di Parthirtaan Belahan, di lereng Gunung Penanggungan. Airlangga diwujudkan dalam sebuah patung Wisnu sedang mengendarai Garudeya(brung garuda).

5. Kerajaan Kediri
Pada akhir pemerintahannya, Airlangga kesulitan mencari penggantinya. Hal ini disebabkan putri mahkota Sanggramawijaya menolak menjadi raja dan lebih memilih menjadi petapa.Tahta kemudian diserahkan pada kedua anak laki-lakinya, yaitu Jayanegrana dan Jayawarsa. Untuk menghindari perselisihan diantara keduanya, kerajaan dibagi 2 dengan batasan Gunung Kawi atas bantuan Empu Barada yaitu Jenggala dengan ibu kotanya Kahuripan dan Panjalu dengan ibu kotanya Daha(Kediri).
Raja pertama yang muncul dalam pentas sejarah setelah masa Airlangga ialah Sri Jayawarsa dengan prasastinya yang berangka tahun 1104 M. Selanjutnya berturut-turut raja-raja yang berkuasa di Kediri ialah Bameswara (1115-1130), Jayabaya (1130-1160), Sarweswara (1160-1170), Aryyeswara (1170-1180), Gandra (1181), Srengga (1190-1200), dan Kertajaya (1200-1222). Pada tahun 1222 terjadi Perang Ganter antara Ken Arok dengan Kertajaya. Ken Arok dengan bantuan para brahmana berhasil mengalahkan Kertajaya di Ganter(Pujon,Malang). Dengan demikian berakhirlah riwayat kerajaan Kediri.

6. Kerajaan Singasari
Kerajaan Singasari didirikan oleh Ken Arok. Dalam kitab Pararaton diceritakan bahwa Ken Arok adalah anak Ken Endok dari desa Pangkur, sebelah timur Gunung Kawi, Malang. Ken Arok digambarkan sebagai seorang pencuri dan perampok sakti sehingga menjadi buronan pasukan Tumapel. Setelah mendapatkan bantuan dari seorang brahmana, Ken Arok dapat mengabdi kepada akuwu(bupati) di Tumapel bernama Tunggul Ametung. Ia berhasil membunuh Tunggul Ametung dan menjadi penguasa Tumapel.. Ia juga menjadikan Ken Dedes, istri Tunggul Ametung, sebagai permaisurinya. Ketika itu, Tumapel masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Kediri.
Setelah merasa memiliki kekuatan yang cukup, Ken Arok berusaha untuk melepaskan diri dari Kediri. Pada tahun 1222, Ken Arok berhasil membunuh Kertajaya, raja Kediri terakhir. Ia kemudian naik tahta sebagai raja Singasari dan mendirikan dinasti baru yaitu Dinasti Girinda. Ken Arok bergelar Sri Rangga Rajasa Sang Amurwabhumi.
Pada tahun 1227, Ken Arok dibunuh oleh Anusapati (Anak Ken Dedes dari Tunggul Ametung) sebagai balas dendam atas kematian ayahnya. Ken Arok dimakamkan di Kagenengan dalam bangunan suciagama Siwa dan Buddha. Anusapati berkuasa di Singasari selama 21 tahun. Masa pemerintahannya berlangsung tentram dan aman sampai akhirnya ia dibunh  oleh Tohjaya (putra Ken Arok dengan Ken Umang) juga sebagai balas dendam atas kematian ayahnya. Anusapati disemayamkan di Candi Kidal, sebelah tenggara Malang.
Tohjaya naik tahta. Ia memerintah hanya beberapa bulan saja. Ia kemudian terbunuh oleh Ranggawuni (putra Anusapati) yang dibantu Mahesa Cempaka di Katang Lumbang(Pasuruan). Pada tahun 1248, Ranggawuni naik tahta dengan gelar Srijaya Wisnuwardhana. Ia didampingi Mahesa Cempaka sebagai Rtu Angabhaya dengan gelar Narasingamurti. Pada tahun 1254, Wisnuwardhana mengangkat putranya Kertanegara sebagai Yuwaraja atau raja muda. Wisnuwardhana wafat pada tahun 1268 di Mandragiri. Kertanegara kemudian naik tahta dengan gelar Sri Maharajadiraja Sri Kertanegara dan menjadi raja terbesar Singasari. Beberapa daerah ditaklukannya. Kertanegara merupakan raja pertama yang bercita-cita menyatukan Nusantara. Pada tahun 1275, Kertanegara mengirimkan Ekspedisi Pamalayu ke Sumatera(Jambi) dipimpin oleh Kebo Anabrang. EKspedisi ini bertujuan menuntut pengakuan Sriwijaya dan Melayu atas kekuasaan Singasari, dan juga bertujuan untuk mengurangi pengaruh Kubilai Khan dari Cina di Nusantara. Karena khawatir atas ekspedisi itu, pada tahun 1289 Kubilai Khan mengirimkan utusan bernama Meng-chi untuk menuntut pengakuan Singasari pada Kekaisaran Mongol. Kertanegara menolak dan bahkan melukai muka utusan Cina itu. Perlakuan Kertanegara dianggap sebagai penghinaan dan tantangan perang.
Untuk menghadapi kemungkinan serangan dari tentara Mongol, pasukan Singasari disiagakan dan dikirim ke berbagai daerah di Laut Jawa dan Laut Cina Selatan sehingga pertahanan di ibu kota melemah. Hal ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak senag terhadap Kertanegara, seperti Jayakatwang (penguasa Kediri) dan Arya Wiraraja (Bupati Madura). Sewaktu kertanegara sedang melakukan upacara Tantrayana. Pasukan Kediri berhasil menduduki istana dan membunuh Kertanegara. Jenazahnya dicandikan di dua tempat, yaitu di Candi Jawi sebagai Siwa Buddha dan di Candi Singasari sebagai Siwa Bhairawa.

7. Kerajaan Majapahit
Ketika pasukan Kediri menyerang istana Singasari, Raden Wijaya (menantu Kertanegara) berhasil melarikan diri bersama keempat putri Kertanegara. Mereka akhirnya sampai di Madura dan meminta bantuan kepada Arya Wiraraja. Atas nasehat Arya Wiraraja, Raden Wijaya menyerahkan diri kepada Jayakatwang dan diperbolehkan membuka perkampungan di hutan Tarik yang diberi nama Majapahit.
Pasukan Mongol yang hendak menghukum Kertanegara tiba pula di Pulau jawa. Mereka belum mengetahui bahwa Kertanegara telah meninggal akibat serangan Jayakatwang. Hal ini dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk membalas dendam kepada Jayakatwang. Setelah pasukan Jayakatwang berhasil dihancurkan tentara Mongol, Raden Wijaya berbalik menyerang pasukan Mongol. Raden Wijaya kemudian dinobatkan sebagai Raja Majapahit dengan gelar Sri Kertarajasa Jayawardhana pada tahun 1293. Arya Wiraraja yang telah membantunya diberikan kedudukan yang tinggi dan mendapatkan daerah kekuasaan dari Lumajang sampai Blambangan(Banyuwangi). Para pembantunya yang telah setia juga mendapatkan imbalan jasa yang semestinya. Namun, Ranggalawe yang merasa berjasa besar dalam pendirian Kerajaan Majapahit merasa tidak puas atas kedudukannya sebagai Adipati Tuban. Ia mengharapkan menjadi Patih Majapahit yang sedang dijabat oleh Nambi. Oleh karena itu, meletuslah pemberontakan Ranggalawe. Pemberontakan itu berhasil digagalkan pada tahun 1309.
Kertarajasa menikahi keempat putri Kertanegara. Istri pertamanya Tribuwana diangkat sebagai permaisuri. Adapun yang bungsu bernama Gayatri atau disebut juga Rajapatni. Kertarajasa mempunyai 3 anak. 2 anak perempuan dari pernikahannya dengan Gayatri, yaitu Bhre Kahuripan dan Bhre Daha. Adapun satu orang putra dari Tribuwana (Parameswari) bernama Kalagemet. Kertarajasa meninggal pada tahun 1309 dan disemayamkan di Candi Siwa (samping Blitar) dan di candi Buddha di Antahpura, Trowulan. Arca perwujudannya adalah Harihari, yaitu Wisnu dan Siwa menyatu dalam satu arca.
Kalagemet kemudian dinobatkan sebagai Raja Majapahit berikutnya dengan gelar Sri Jayanagara. Ia bukanlah raja yang cakap. Sebagian waktunya dihabiskan untuk bersenag-senang dengan selir-selirnya di Istana Kapopongan. Selain itu, ia juga mendapatkan banyak pengaruh dari Mahapati, seorang pejabat tinggi yang ambisius. Akibatnya, masa pemerintahan Jayanagara diwarnai munculnya beberapa pemberontakan, seperti Juru Demung, Gajah Biru, dan Nambi. Pemberontakan yang paling berbahaya adalah pemberontakan Kuti pada tahun 1319. Kuti berhasil menduduki ibu kota Majapahit sehingga Jayanagara harus melarikan diri ke Desa Bedander dikawal oleh pasukan Bhayangkari pimpinan Gajah Mada. Pemberontakan Kuti akhirnya berhasil ditumpas oleh Gajah mada. Karena jasanya, ia diangkat sebagai Patih Kahuripan. jayanagara meninggal pada tahun 1328 dibunuh oleh tabib istana, Tanca. Tanca kemudian dibunuh oleh Gajah Mada. Jayanagara tidak mempunyai keturunan. Ia dicandikan di Sila Petak dan di Bubat dengan arca perwujudan sebagai Wisnu, dan di Sukalila sebagai Amoghasiddhi.
Karena Jayanegara tidak mempunyai keturunan, maka yang berhak memerintah semestinya ialah Gayatri. Akan tetapi ia telah menjadi biksuni, maka pemerintahan Majapahit kemudian dipegang oleh putrinya Bhre Kahuripan dengan gelar Tribhuwana Tunggadewi Jayawisnuwardhani. Ia menikah dengan Kertawardhana. dari perkawinan ini lahirlah Hayam Wuruk. Pada tahun 1331 terjadi pemberontakan Sadeng dan Keta(di daerang Besuki). Pemberontakan yang berbahaya ini dapat pula ditumpas oleh Gajah Mada. Karena jasanya itu, Gajah Mada diangkat sebagai Patih Mangkubumi Majapahit. Sewaktu pelantikan, gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa (Amukti Palapa) yang isinya ia tidak akan memakan palapa (garam dan rempah-rempah) sebelum dapat mempersatukan Nusantara di bawah Majapahit. Sumpah ini benar-benar dilaksanakan oleh Gajah Mada. Pada tahun 1343, Gajah Mada yang dibantu Adityawarman dapat menaklukkan Bali. Berikutnya Gajah Mada memerintahkan Adityawarman untuk menaklukkan Melayu di Sumatera.
Pada tahun 1350 M, Tribhuwana turun tahta. Ia digantikan oleh Hayam Wuruk yang bergelar Rajasanagara. Di bawah pemerintahan Hayam wuruk dengan Gajah Mada sebagai Mahapatihnya, Majapahit mencapai puncak kejayaannya. Dengan sumpah Palapanya, Gajah Mada berhasil menguasai seluruh Kepulauan Nusantara ditambah dengan Siam, Martaban(Burma), Ligor, Annam, Champa, dan Kamboja. Hubungan dengan negara-negara tetangga pun dijalin dengan baik. Hal ini tampak pada semboyan politik luar negeri Majapahit, Mitreka Satata, yang artinya menjalin hubungan baik dengan negara-negara tetangganya.
Pada tahun 1364, mahapatih Gajah Mada wafat di tempat peristirahatannya, Madakaripura, di lereng Gunung Tengger. Semasa hidupnya, Gajah Mada menulis kitab hukum yang dijadikan sebagai dasar Hukum Majapahit yang disebut Kutaramanawa. Setelah Gajah Mada meninggal, Hayam Wuruk kesulitan menunjuk penggantinya. Akhirnya diputuskan bahwa pengganti Gajah Mada adalah 4 orang menteri. Hayam Wuruk wafat pada tahun 1389. Ia disemayamkan di  Tayung, Kediri. Seharusnya yang menggantikan adalah putrinya yang bernama Kusumawardhani. namun, ia menyerahkan tahta kepada suaminya yang masih saudara sepupunya bernama Wikramawardhana. Hayam Wuruk juga mempunyai anak laki-laki dari selir, bernama Bhre Wirabhumi yang telah mendapatkan daerah di Kedaton Wetan(Ujung Jawa Timur). Akan tetapi pada tahun 1401, hubungan Wikramawardhana dengan Wirabhumi berubah menjadi perang saudara yang dikenal sebagai Perang Paregreg. Wirabhumi dapat melemahkan kekuasaan Majapahit sehingga banyak wilayah kekuasaan yang melepaskan diri.
Pada tahun 1429, Wikramawardhana meninggal dan digantikan oleh putrinya bernama Suhita (1429-1447). Suhita kemudian digantikan oleh adik tirinya yang bernama Kertawijaya (1447-1451). Setelah itu, sejarah Majapahit semakin suram dan tidak diketahui dengan pasti raja-raja penggantinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar